Deskripsi: Dunia ketenagakerjaan menarik
dibahas, karena menyangkut hajat orang banyak. Kadin paham betapa pentingnya
pengelolaan isu ketenagakerjaan agar tetap kondusif.
Isu ketenagakerjaan selalu menarik untuk
dicermati. Kenapa? Karena dunia ketenagakerjaan dengan segala dinamika yang ada
di dalamnya selalu memuat isu-isu strategis. Mulai, kompetensi tenaga yang
rendah, ketersediaan lapangan kerja yang tidak sebanding dengan jumlah angkatan
kerja, dan seterusnya. Berbagai permasalahan tersebut tidak luput dari
perhatian Kadin Indonesia.
Indonesia memang tengah dihadapkan pada
tantangan di sektor ketenagakerjaan yang kian berat. Kadin mencatat setidaknya
ada tiga tantangan yang dihadapi dunia ketenagakerjaan Indonesia ke depan.
1. Kualifikasi dan kompetensi Masih Rendah
Tantangan pertama yang dihadapi dunia
ketenagakerjaan adalah kualifikasi dan kompetensi angkatan kerja Indonesia yang
masih rendah. Hal ini berakibat tenaga kerja Indonesia tidak mampu bersaing
untuk menduduki posisi/jabatan strategis, khususnya di perusahaan-perusahaan
swasta.
Mengutip data Kementerian Ketenagakerjaan,
angkatan kerja Indonesia saat ini masih didominasi lulusan SD dan SMP dengan porsi
60% dari total angkatan kerja yang mencapai 132 juta orang pada 2019. Itu artinya sebanyak 79 juta orang hanya
mampu menduduki posisi bawah dalam struktur pekerjaanya.
Selain kompetensi rendah, dunia ketenagakerjaan
nasional juga dihadapkan pada persoalan ketidaksesuaian (mismatch) antara pendidikan dengan pekerjaan. Ketidaksesuaian
antara pekerjaan dengan latar pendidikan masih cukup tinggi yakni mencapai
60,52%.
Untuk mengatasi rendahnya kualifikasi dan
kompetensi angkatan kerja, Kadin Indonesia meminta pemerintah agar meluncurkan
satu program, misalnya pendidikan vokasi, pemagangan berbasis kompetensi di
perusahaan, serta sertifikasi kompetensi. Program tersebut penting dalam rangka
pemenuhan tenaga kerja sesuai kebutuhan industri.
2. Pasar Kerja yang Kian Ketat
Globalisasi di bidang ketenagakerjaan sejatinya
membuka peluang yang selebar-lebarnya bagi tenaga kerja Indonesia untuk ikut
bersaing dalam pasar kerja. Pekerja Indonesia diharapkan bisa bersaing dengan
TKA yang mencari pekerjaan di Indonesia.
Persaingan dengan TKA tak bisa dihindari! Ini
adalah konsekuensi Indonesia yang telah menandatangani perjanjian perdagangan
bebas, termasuk lalu lintas ketenagakerjaan. Yang bisa dilakukan adalah
menyiapkan SDM yang handal dan berkualitas sehingga SDM Indonesia tidak menjadi
pengangguran di negeri sendiri.
Kadin memberikan solusi bagi pekerja lokal
untuk bisa bersaing khususnya dengan TKA. Pertama, harus ada rasa percaya diri
bahwa kamu bisa bersaing dengan TKA. Kedua, harus menguasai bahasa asing.
Penguasaan bahasa asing juga tak kalah penting, karena dengan menguasai bahasa
asing pekerja lokal bisa dengan mudah masuk ke perusahaan-perusahaan
multinasional.
Yang ketiga adalah pengalaman berorganisasi.
Ini sangat penting karena akan membuat calon pekerja siap untuk terjun langsung
ke dunia kerja. Solusi terakhir adalah tidak gagap teknologi (gaptek). Dunia
sudah serba canggih dan untuk bisa bersaing dengan TKA, pekerja Indonesia harus
menguasai teknologi dengan baik.
3. Berkah Bonus Demografi
Bonus demografi ibarat pisau bermata dua. Bonus
demografi akan menjadi berkah jika angkatan kerja produktif Indonesia mampu
terserap dengan baik. Sebaliknya, bonus demografi bisa menjadi bencana jika
angkatan kerja produktif tidak bisa terserap pasar kerja.
Pemerintah bersama pelaku usaha harus
optimistis menyambut bonus demografi sebagai sebuah berkah yang menguntungkan
bagi kondisi ketenagakerjaan di
Indonesia. Harus dipersiapkan pembangunan SDM yang unggul, misalnya melalui
penguatan pembangunan di sektor vokasi.
Agar bonus demografi bernilai berkah,
pemanfaatan teknologi digital juga perlu terus ditingkatkan agar berdampak
positif bagi pertumbuhan e-commerce,
startup, serta pengembangan ekonomi digital Indonesia. Selain itu, perlu
adanya dukungan kebijakan yang mendorong terselenggaranya pendidikan dan
pelatihan yang berkesinambungan serta terbukanya lapangan kerja.
Ketiga tantangan seperti yang dipaparkan Kadin diatas, sejatinya merupakan
masalah klasik di sektor ketenagakerjaan yang tidak pernah kunjung selesai.
Kompetensi tenaga kerja yang rendah serta pasar kerja yang kian ketat sudah
sering dibahas di berbagai forum. Namun, itu semua belum sampai pada tataran
praktis yang implementatif.

0 Komentar
Penulisan markup di komentar